Sekedar untuk mengingatkan kita kembali bahwa bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan merupakan bulan yang di khususkan oleh Allah SWT karena di bulan Ramadhan terdapat mutiara amat berharga yang secara ikhlas harus di raih oleh setiap kaum beriman guna mewujudkan sebuah kebahagian di dunia dan diakhirat kelak Ramadhan menjadi inti atau ruhnya satu tahun karena semua kegiatan ibadah yang dilaksanakan di bulan ini menjadi sangat khusus sampai-sampai ibadah sunah-pun nilai pahalanya sama dengan ibadah wajib di luar bulan Ramadhan. Itu artinya bahwa harus tanpa ragu seseorang yang di nilai beriman pasti mengetahui betapa pentingnya ibadah di bulan Ramadhan sehingga tidak jarang dari kaum beriman ini yang tidak sedikitpun melewatkan kesempatan berharga tersebut. Artinya mereka sunguh berharap agar ada kesempatan ibadah sekecil apapun akan dilaksanakan dengan penuh keihlasan karena Allah.
Menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan selain melaksanakan perintah Allah juga merupakan sarana untuk pendidikan dan pelatihan pengendalian diri dari berbagai godaan duniawi yang syarat dengan kemewahan dan kesenangan semu. Puasa (shaum) di bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita tentang berbagai hal yang berkaitan langsung dengan realitas kehidupan kita sehari-hari .
Bebergai hal tersebut terefleksi dari momen-momen kegiatan ibadah yang kita laksanakan dalam bulan Ramadhan, Diantaranya yakni melaksanakan ibadah sholat lail seperti sholat Tarawih dan sholat-sholat sunah lainnya, Tadarus Al-Qur’an, kegiatan ceramah, diskusi keagamaan dan sebagainya. Kegiatan ibadah yang kita lakukan pada malam hari tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya pemanfaatan waktu di malam hari diluar bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermotif ibadah bukan dengan kegiatan hura-hura yang tidak ada manfaatnya. Kegiatan ibadah Ramadhan di malam hari juga mempunyai makna bahwa terdapat nilai keutamaan pemanfaatan waktu malam untuk hal-hal yang bersifat pribadi antara hamba dengan khaliknya. Artinya bahwa di malam hari tersedia sarana khusus mengkomunikasikan penyerahan diri dan persoalan termasuk keinginan individu kepada sang pencipta karena kondisi di malam hari dengan ciri dan sifat yang dimilikinya memungkinkan terdapatnya keistimewaan-keistimewaan tertentu. Sehingga sangatlah wajar jika Allah SWT telah menyediakan suatu malam (lailatul Qadar) yang sangat bernilai ibadah di bandinghkan dengan malam-malam yang lain
. Namun demikian, kita umat Islam yang berada dalam, wilayah realitas atau dengan kata lain bahwa umat Islam yang merupakan pelaksana dari perintah beribadah di bulan Ramadhan haruslah mereduksi pemahamannya tentang adanya suatu malam yang sangat istimewa tersebut. Pemahaman yang perlu di kedepankan dalam menyikapi ibadah malam hari di bulan Ramadhan, yakni bahwa hendaknya semua malam di bulan Ramadhan dijadikan malam istimewa. Hal ini dimaksudkan agar semua kegiatan ibadah malam hari di bulan Ramadhan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan karena Allah, bukan karena yang lainnya. Pemahaman seperti ini juga dimaksudkan untuk merespon aktifitas ibadah sebagian dari kita yang melaksanakan ibadah malam hari di bulan Ramadhan secara parsial saja atau dengan setengah hati. Sehingga kita tidak lagi menjumpai adanya sebagian dari kita yang rajin melaksanakan sholat malam hanya pada awal puasa atau rajian hanya pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan. Oleh karena bulan Ramadhan merupakan sarana pendidikan dan pelatihan dalam menghadapi sebelas bulan yang akan datang, maka kegiatan ibadah di malam hari harus juga mewarnai kegiatan di malam hari di luar bulan Ramadhan. Artnya kita berusaha untuk memanfaatkan malam hari dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Mengkontruksikan pemahaman semacam ini di luar bulan Ramadhan memang sulit dan tidak sedikit tantangannya, akan tetapi jika kita bertekad dan bersungguh-sungguh, dibarengi dengan keikhlasan, maka tidaklah menjadi hal yang mustahil untuk di wujudkan.
Bebergai hal tersebut terefleksi dari momen-momen kegiatan ibadah yang kita laksanakan dalam bulan Ramadhan, Diantaranya yakni melaksanakan ibadah sholat lail seperti sholat Tarawih dan sholat-sholat sunah lainnya, Tadarus Al-Qur’an, kegiatan ceramah, diskusi keagamaan dan sebagainya. Kegiatan ibadah yang kita lakukan pada malam hari tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya pemanfaatan waktu di malam hari diluar bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermotif ibadah bukan dengan kegiatan hura-hura yang tidak ada manfaatnya. Kegiatan ibadah Ramadhan di malam hari juga mempunyai makna bahwa terdapat nilai keutamaan pemanfaatan waktu malam untuk hal-hal yang bersifat pribadi antara hamba dengan khaliknya. Artinya bahwa di malam hari tersedia sarana khusus mengkomunikasikan penyerahan diri dan persoalan termasuk keinginan individu kepada sang pencipta karena kondisi di malam hari dengan ciri dan sifat yang dimilikinya memungkinkan terdapatnya keistimewaan-keistimewaan tertentu. Sehingga sangatlah wajar jika Allah SWT telah menyediakan suatu malam (lailatul Qadar) yang sangat bernilai ibadah di bandinghkan dengan malam-malam yang lain
. Namun demikian, kita umat Islam yang berada dalam, wilayah realitas atau dengan kata lain bahwa umat Islam yang merupakan pelaksana dari perintah beribadah di bulan Ramadhan haruslah mereduksi pemahamannya tentang adanya suatu malam yang sangat istimewa tersebut. Pemahaman yang perlu di kedepankan dalam menyikapi ibadah malam hari di bulan Ramadhan, yakni bahwa hendaknya semua malam di bulan Ramadhan dijadikan malam istimewa. Hal ini dimaksudkan agar semua kegiatan ibadah malam hari di bulan Ramadhan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan karena Allah, bukan karena yang lainnya. Pemahaman seperti ini juga dimaksudkan untuk merespon aktifitas ibadah sebagian dari kita yang melaksanakan ibadah malam hari di bulan Ramadhan secara parsial saja atau dengan setengah hati. Sehingga kita tidak lagi menjumpai adanya sebagian dari kita yang rajin melaksanakan sholat malam hanya pada awal puasa atau rajian hanya pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan. Oleh karena bulan Ramadhan merupakan sarana pendidikan dan pelatihan dalam menghadapi sebelas bulan yang akan datang, maka kegiatan ibadah di malam hari harus juga mewarnai kegiatan di malam hari di luar bulan Ramadhan. Artnya kita berusaha untuk memanfaatkan malam hari dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Mengkontruksikan pemahaman semacam ini di luar bulan Ramadhan memang sulit dan tidak sedikit tantangannya, akan tetapi jika kita bertekad dan bersungguh-sungguh, dibarengi dengan keikhlasan, maka tidaklah menjadi hal yang mustahil untuk di wujudkan.
Makna lainnya yang dapat di petik dari pelaksanaan ibadah puasa khususnya aktifitas puasa di siang hari, yakni bahwa kita di latih untuk menghadapi banyaknya aktifitas di siang hari di luar bulan Ramadhan yang terkadang menggiring kita untuk mengorbankan prinsip keteguhan ibadah yang pernah dilakukan selama bulan Ramadhan. Jika mencoba memahami lebih dalam tentang pentingnya seseorang melaksanakan ibadah puasa, maka kita akan menemukan betapa manfaatnya sesorang yang malaksanakan ibadah puasa terutama berkaitan erat dengan aktualisasi diri dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa orang yang melaksanakan ibadah puasa akan mempunyai seperangkat kualitas diri, mulai dari kepercayaan, peran, sampai pada hasil yang ditampilkan dari pemanfatan kepercayaan dan peran yang di miliki tersebut.
Peran ibadah yang di tampilkan di bulan Ramadhan harusnya bersifat menyeluruh meliputi aspek internal dan eksternal umat manusia yang selama sebelas bulan sebelumnya kurang diperhatikan Di bulan Ramadhan ada kewajiban dan bagi siapa saja yang menjalankan ibadah puasa uintuk mengusahakan adanya sebuah kehidupan menyenangkan dan membahagian diri sendiri maupun orang lain dengan sentuhan amal ibadah yang sesuai menurut ajaran Islam. Dalam bulan Ramadhan, kita di minta untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak benar, kita juga diharapkan memberikan contoh kehidupan yang Islami yang memandang semua mahluk Allah sebagai kesatuan komunitas yang perlu diperhatikan baik itu menyangkut sikap ucapan maupun perbuatan. Artinya semua yang di lakukan dalam bulan Ramadhan adalah konskwensi tertinggi dari wujud atau realitas ibadah yang sebenar-benarnya. Hal tersebut tercermin melalui respon kita terhadap makna yang terkadung dalam perintah menjalankan ibadah puasa.
Pemahaman dan pemaknaan sebagaiman dikemukakan, tentunya terlalu luas, dan memungkinkan kita sulit menjangkaunya. Namun demikian kita harus tetap dan terus menerus mengupayakannya agar konsesus kita untuk membangun umat percontohan dapat terwujud. Umat percontohan yang dimaksudkan disini yakni adanya suatu golongan atau kaum yang menyuruh kepada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kebatilan (munkar) dan beriman kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan sangat dekat dengan pembentukan masyarakat percontohan tersebut, tergantung seberapa besar perhatian dan usaha kita untuk mewujudkannya. Dipihak lain pemahaman seperti ini juga merupakan kontribusi bagi pencapaian manusia paripurna (muttaqin) sebagai wujud derajat ketaqwaan. Itulah esensi konprehensip yang terkandung dalam makna ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, sebelum mewujudkannya perlu melakukan perbaikan diri agar mudah menuju derajat ketaqwaan Perbaikan tersebut tentunya tidak serta merta dilakukan, karena kita harus menjalankan sebuah proses yang juga banyak liku—likunya.
Dalan waktu satu bulan kita berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri walaupun terkadang kita menghadapi banyak tantangan dan cobaan yang tidak saja berkaitan dengan masalah-masalah besar, tapi juga hal-hal sepele yang selama sebelas bulan sebelumnya tidak di hiraukan. Sebut saja kejujuran dalam rumah tangga, sikap kita menghadapi lingkungan social yang cendrung berubah, sampai kepada cara betutur kata dan mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna jorok.. Rasulullah Muhammad saw besabda bahwa Puasa adalah benteng. Apabila seorang diantara kamu puasa, hendaklah ia tidak mengucapkan kata-kata jorok dan janganlah ia bertengkar. Apabila ada seseorang mencacinya atau mengajak berkelahi, maka ia hendaklah mengatakan kepadanya. Sesungguhnya aku sedang berpuasa (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).
Makna lain yang juga mengiringi pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan yakni kejujuran dan keikhlasan dalam persoalan apapun.. Puasa mengajarkan kita untuk bersikap jujur dan ikhlas dalam beribadah, baik ibadah fardu maupun ibadah muamalah. Kejujuran dan keikhlasan merupakan cirri manusia beriman sebab dengan kejujuran dan keikhlasan, maka jalan menuju ketaqwaan akan semakin mudah. Sebaliknya jika kejujuran dan keikhlasan tidak dimiliki maka jalan menuju ketawaan akan semakin sulit terwujud. Jadi untuk menuju derajat ketaqwaan selain dengan melaksanakan ibadah juga harus dilandasi oleh kejujuran dan keikhlasan karena Allah. Dengan taqwalah kita akan banyak memperoleh keuntungan termasuk keuntungan yang utama yakni memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman bahwa; dengan takwa akan dimudahkan jalan hidupnya dan di beri rezeki yang sumbernya tidak terduga-duga. (QS, Al Hujurat :13)
Momentum Ramadhan haruslah di manfaatkan semaksimal dan sebaik- baiknya untuk meraih posisi ketaqwaan tersebut, sebagaimana di perintahkan oleh Allah SWT kepada segenap kaum beriman di seluruh dinia. Itu artinya bagi mereka yang beriman, Allah SWT telah menyediakan sarana khusus untuk menuju sebuah kebahagian yang tiada tarahnya yakni kebahgian memperoleh kmuliaan disisi Allah sebagai konsekwensi dari manusia yang bertaqwa.
Ketaqwaan amatlah penting karena dialah merupakan puncak atau inti dari semua perjuangan dan pergulatan keimanan seseorang dalam menjaga dan memelihara keutuhan hidup yang berlandaskan kehendak Ilahi. Oleh karena itu mencapaian derajat ketaqwaan tidaklah sebatas menjadi orang beriman saja, akan tetapi sesungguhnya lebih dari itu yakni usaha memperoleh kepastian kemampuan (Kualitas) maksimal seseorang dalam berbagai hal termasuk kemampuan memproteksi atau mengendalikan diri dari segala yang di larang sekaligus mempelopori diri dalam melaksanakan perintah -perintah-Nya. Perintah untuk berpuasa sebagaimana termaktub pada ayat 183 dari Surat Al-Baqarah haruslah di maknai sebagai suatu pilihan kemudahan untuk mencapai ketaqwaan di badingkan dengan puasa di luar bulan Ramadhan. Perintah untuk berpuasa dan segala kegiatan ibadahnya harus pula dmaknai sebagai kemurahan dan kasih sayang Allah kepada setiap hambanya agar melakukan perubahan dan perbaikan mendasar terhadap seluruh sifat dan perbuatan yang tidak sejalan dengan kehendak Illahi. Oleh karenanya kita harus sedapat mungkin memanfaatkan kemudahan yang di berikan tersaebut, sebab jika tidak kita pasti menyesal selama-lamanya. Fastabiqul Khairat
Saleh Wailissa, SE. M.Si
adalah Ketua Majelis Kader
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Madiun
