Abad XXI yang ditandai dengan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghantarkan umat manusia untuk berpikir modern dan rasional dalam mengapreseasikan perannya sebagai khalifa di muka bumi. Hal ini menjadikan umat manusia mampu berpikir tentang benar tidaknya suatu keyakinan yang saat ini menjadi filter moral dalam kehidupan umat manusia. Dipihak lain, ada sebagian umat manusia yang mulai menyangsikan betapa penting dan tidaknya suatu ajaran agama bagi keberadaannya di dunia.. Padahal agama sebagai sistim tata nilai mestinya mampu menjadi dasar atau pedoman yang koprehensip dalam semua aspek termasuk mampu memberikan sosulisi kebenran riil atas berbagai problem moral sekaligus sebagai sumber pengaturan dalam menghadapi kompleksitas permasalahan hidup. Tidak hanya itu, agama diharapkan mampu mengatur berbagai permasalahan dalam pemenuhan hak dan kewajiban dari setiap mahluk hidup. Inilah yang belakangan menjadi sentra pertanyaan dalam benak umat manusia.. Lalu apakah ada ajaran agama yang secara riil menunjukan atau memberikan jawaban pasti adanya kebenaran tersebut disertai dengan bukti-bukti yang nyata.
Pertanyaan ttersebut tentu harus dijawab secara rasional disertai bukti konkrit agar umat manusia menjadi lebih yakin dengan pilihan tauhidnya tersebut. Komitmen inilah yang hendak dibangkitkan agar umat manusia dapat mengakui sebuah kebenaran yang betul-betul dikehendaki oleh Allah. Barangkali inilah saatnya manusia diajak untuk berpikir dan membuktikan dengan panca indera yang dimilki untuk mengetahui tentang keberadaan atau kehadiran sebuah ilmu pengetahuan Ilahi yang muncul sekaligus dengan aktor pengubah sebagai agen untuk memberikan jalan menuju kebenaran hakiki sebagaimana yang di tunjukan oleh Allah dalam setiap kitab sucinya. Sebagian kecil dari umat manusia atau mahluk hidup lainnya yang telah di beri petunjuk pasti meyakini bahwa akan muncul suatu peristiwa luar biasa yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sehingga mereka berharap kapan datangnya peristiwa tersebut. Tetapi bagi sebagaian besar umat manusia dan mahluk hidup lainnya akan lebih heran dan tidak akan meyakini munculnya persitiwa tersebut apalagi terjadi di Indonesia. Sehingga sebagaian dari mereka mulai melakukan spekulasi logika dengan pemahaman yang masih parsial terhadap ajaran agama untuk menalar betul tidaknya peristiwa tersebut.
Untuk mengetahui wujud dari peristiwa tersebut, maka penulis memberikan gambaran berupa sejarah singkat munculnya sebuah ilmu pengetahuan yang diberikan langsung oleh Allah SWT melalui utusannya kepada seorang hambanya di dunia nyata saat ini. Sekitar tahun 1989 di pulau Ambon disebuah desa di Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, tepatnya didesa :Tial” ada sesorang hamba Allah yang didatangi oleh mahluk gaib berwujud manusia yang membawa hidayah (wahyu) dari Allah SWT. untuk diberikan kepada hamba tersebut, Setelah kejadian itu, kemudian pada malam harinya terjadi peristiwa aneh berikutnya, yakni munculnya surat a “Al-Qadr” dengan huruf yang berwarna emas. selain itu surat tersebut juga muncul dalam bahasa Indonesia sehingga dengan mudah membacanya. Peristiwa berkutnya terjadi memberian ilmu dari gaib kepada hambanya tersebut sampai berturut turut selama kurang lebih dua puluh tahun. Banyak hal aneh atau kejadian yang di peroleh selama dua puluh tahun tersebut, termasuk hal- hal yang selama ini hanya merupakan cerita di kitab suci sehingga siapapun yang mengetahui kisah ini akan bertanya-tanya tentang adanya ilmu tersebut. Ilmu ini juga telah memberitahukan tentang ajaran apa yang paling benar sekaligus memberitahukan kapan datangnya kebenaran. Singkatnya bahwa berbagai hal yang tersurat maupun tersirat sudah diketahui dengan hadirnya ilmu tersebut, begitupun dengan konsekwensi yang akan yang muncul dari problem umat manusia saat ini
. Banyak hal yang menjadi fenomena kapan peristiwa tersebut terjadi, yakni peristiwa dimana kebenaran akan muncul dan saat dimana kebatilan akan musnah. Berbagai hal yang dapat di kemukan sebagai emrio lahirnya pergantian masa tersebut, diantaranya tentang kondisi moral umat, keterpurukan sosial ekonomi akibat kelalaian atas hak dan kewajiban sampai pada fenomena maraknya perubahan yang terjadi pada pemahaman ajaran agama. Oleh karena itu untuk memahaminya, maka konsepsi yang perlu dijadikan dasar adalah pemahaman terhadap pola perubahan jaman termasuk di dalamnya adalah paham-paham keagamaan yang dimiliki dan dijalankan oleh masyarakat .
Bahwa paham keagamaan saat ini boleh dikatakan aneh dan sungguh memperihatinkan karena banyak macamnya dan muncul ditengah pergolakan zaman modern yang syarat dengan ilmu pengetahun dan teknologi. Sungguh aneh tapi itulah realita yang harus disikapi dengan bil hikma, sebab jika dilawan dengan radikalisme, maka penguraian benang merah tentang kebenaran hakiki akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin di pastikan tidak akan menggapai hujungnya. Inilah sebuah fenomena mutakhir yang dijumpai di dunia nyata. Namun demikian kita tidak perlu risau dengan adanya fenomena tersebu8t karena sampai saat ini belum ada paham keagamaan yang bisa memberikan jaminan tentang adanya sebuah kebenaran hakiki tersebut. Sehingga yang terjadi adalah paham keagamaan tetentu yang tidak sesuai dengan kitab suci. Inilah yang saat ini sangat di khawtirkan oleh berbagai kalangan aktifis keagamaan dan tidak sedikit dari mereka yang kemudian mempersalahkan paham atau bentuk-bentuk aliran yang ada. Aliran atau praktek keagamaan seperti ini semakin menjamur bahkan tidak sedikit kaum modernis (terdidik) yang terperosok kedalamnya...
Oleh karena itu kondisi keberagamaan dan kepercayaan masyarakat di Indomesia bahkan di dunia sekalipun harus dijustifikasi sebagai sebuah metamorfosis menuju kebenaran hakiki. yaitu perubahan secara bertahap dan berangsur untuk menuju kepada sebuh rasionalitas tauhid. yang sebenarnya. Artinya adanya refleksi kebenaran ajaran dengan kenyataan rasional yang sebenar-benarnya. yakni meyakini dengan sebenarnya kebenarann yang berasal dari hanya satu Tuhan disertai dengan dengan berbagai pembuktiannya.. Hal ini dimaksudkan bahwa untuk menuju sebuh kebaikan atau kebenaran mutlak tidaklah dicapai dengan mudah, butuh proses yang panjang karena hal ini terjadi di alam nyata yaitu alam atau biotik yang di dalamnya terdapat berbagai mahluk Allah yang juga nyata dengan sifat dan perilakunya (behaveor) bermacam-macam.Ambil misal seseorang yang telah bekerja dalam kondisi ideal atau normal sudah barang tentu persyaratan ijasah atau sertifikat menjadi salah satu persyartan utama, karena disinilah kulifikasi dari pekerjan yang bersangkutan dinilai untuk ditempatkan pada bagian yang sesuai. Nah untuk memperolah ijasah atau sertifikat tersebut tidak lain adalah dengan proses pendidikan atau pelatihan dan semacamnya. Inilah yang dimaksud dengan sebuah perumpamaan ketidak benaran menuju kebenaran hakiki. Sebab selama ini kebenaran yang terlihat masih dapat dimodifikasi sehingga tidak sedikit yang menjadi bias karena adanya faktor lain sangat kuat untuk memberikan pengaruh. Akan tetapi kebenaran mutlak tidak ada lagi seorangpun yang dapat mempengaruhinya walaupun dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern sekalipun Sifat dari kebenaran seperti inilah yang dinamakan kebenaran hakiki.
Untuk menuju kebenaran hakiki di alam nyata saat ini tidaklah dengan memberikan ramalan sufistik saja akan tetapi lebih dari itu yang menunjukan sebuah realitas kebenaran disertai keajaiban atau mukjijat. Secara sufistik boleh kita katakan bahwa perubahan sifat, perilaku atau tingkah laku penghuni alam semesta, termasuk manusia hewan, tumbuhan dan mahluk lainnya telah menampakan sinyal akan datangnya sebuah kebenaran yang dapat memusnakan sifat, perilaku keanehan dan lainnya tersebut dan mungkin tidak lama lagi kita mendengarnya. Jika pemusnahan kebatilan tersebuit terjadi dialam nyata, maka kita dapat merasakan keputusan Allah dalam sekejap mata karena Alaah akan menggunakan haknya yakni Kun Fayakun . Tapi hal ini terjadi dialam nyata sehingga kun harus mengalami proses menjadi fayakun. pada kondisi demikian, maka terjadi gejolak yang bisa jadi membawa korban berbagai mahluk hidup di alam ini dan tidak ada mahluk satupun yang dapat menghambat dan membantahnya. Hanya saja bentuk pengorbanan tersebut berbedah-bedah termasuk di dalamnya bencana alam yang akhir-akhir ini sering dijumpai.
Jika kita mengurai sedikit tentang keragaman ajaran agama dunia muktahir, maka banyak paham keagamaan yang aneh dan menyimpang dari ajaran yang sebenarnya akan tetapi untuk mengatakan suatu ajaran itu salah atau benar, kita perlu memiliki seperangkat parameter termasuk kita mampu menghadirkan pembuktian tentang kebenaran dengan wahyu (mukzizat) sebagai sebuah pembuktian yang di saksikan secara nyata oleh umat manusia dan bukan hanya melalui naskah sejarah agama-agama yang di sampaikan oleh para mubalik atau penyampaian melalui teks-teks ayat dari kitab-kitab suci, melaikan harus bisa dipastikan dengan segala bukti dan contohnya tentang kebenaran dari sebuah paham atau ajaran agama. Sebab kisah tentang wahyu atau mukzizat Illahi banyak telah di perdengarkan akan tetapi belum ada seorangpun dari para mubalik yang pewaris ajaran Illahi pada zaman ini yang menunjukan kepada publik tentang seperti apakah wahyu itu dengan buktinya. Karena para pewaris tersebut diyakini memiliki kemmapuan untuk menunjukan kepada publik bahwa memang benar telah terjadi peristiwa pemberian wahyu atau mukzizat dengan segala pembuktiannya.. Jika ini benar- benar terjadi, maka dipastikan akan terjadi transformasi pemahaman besar-besaran termasuk kemungkinan adanya migrasi dari satu paham agama ke agama lain yang diyakini kebenarannya. Selain itu akan terjadi pula penginsafan dan pertaubatan masal umat manusia didunia karena rasionalitas tauhid yang diyakini telah dapat di buktikan secara nyata.
Dalam konteks yang lain sebagian umat manusia juga pasti tidak mengetahu dari mana asal-usul ajaran tersebut atau dengan kata lain ajaran atau paham-paham keagamaaan yang diketahui saat ini hanya melalui pengetahun tekstual yang dipertajam melalui logika atau naluri eksplisit dengan pembacaan alam pikiran serta sedikit bukti dari pembacaan alam semesta dengan segala isinya. Disamping itu juga melalui logika sejarah yang di muat dalam berbagai kitab suci, karena itu tiidaklah bisa seseorang tidak cukup pengetahuan untuk mengurai memiliki kekuatan dalam menilai asal-usul ajaran agama dengan menunjukan kesaktian (muzizat) yang sebenarnya. Sejarah telah menunjukan kepada kita bahwa para pewaris ajaran Illahi (para nabi) telah memberikan contoh tentang kesaktian ilmu agamanya dan meraka buktikan hal tersebut. Misalnya saja Nabi Musa dengan mukziat tongkat, Nabi Isa dengan mukzizat menghidupkan oran yang telah meningggal sampai pada Nabi Muhammad SAW yang banyak sekali mukzizatnya. Sebab dalam kondisi apapun jika para pewaris ajaran Illahi tersebut pasti telah ada titipan atau sirullah kepadanya walaupun itu hanya sedikit, Hal seperti itu yang belum di tunjukan.oleh para agen keagamaan saat ini, sehingga banyak juga umat manusia yang meragukan kebenaran dari ajaran agama yang di sampaikannya.
Secara rasional kebenaran tauhid Illahi, mestinya harus dapat di buktikan dan tidak ada kemustahilan untuk melakukan itu, tapi mengapa tidak ada seorangpun yang dapat menunjukannya dalam zaman muktahir. Itu artinya pemahaman atau pengetahuan ataupun ajaran-ajaran agama yang diyakini saat ini harus di kaji ulang atau ditelaah kembali berdasarkan jalur pewaris sebenarnya. Sebab jika hal tersebut tidak dilakukan, maka kondisi keterpurukan dan kemunafikan akan berlangsung terus-menerus karena umat manusia yang hidup di alam nyata memerlukan sebuah kepastian kebenaran nyata dan rasional menurut alam pikirannya. Jika tidak bisa untuk menghadirkan rasionalitas yang disertai dengan fakta tersebut, maka inilah yang menjadi permasalahan keraguan bagi umat manusia didunia ini dalam memastikan kebenaran hakiki atau kebenaran yang sebenar-benarnya dari paham agama yang dianut oleh umat manusia di dunia..
Secara konseptual kita hanya mengetahui ajaran-ajaran agama samawi saja tapi sulit untuk menjelaskan secara benar dengan bukti yang nyata dari sebuah ajaran agama samawi tersebut yang dianggap paling benar. Penafsiran seperti ini menggambarkan bahwa seakan-akan ajaran agama yang ada tidak punya kekuatan dalam memberikan jawaban yang sesungguhnya. Kita hanya bisa mengatakan bahwa perbuatan kezaliman, dosa, permusuhan, perselisihan, becana alam musibah dan ,eksploitasi manusia atas manusia adalah karena adanya penyimpangan dari ajaran-ajaran agama. Dalil yang digunakan masih berkisar pada logika ayat atau firman. Padahal mestinya harus mengatakan bahwa sesuatu yang terjadi karena adanya penyelewengan terhadap ajaran Illahi, disertai bukti maupun menunjukan kenyataan akibat peristiwa peristiwa tersebut saat itu juga. Memang benar bahwa pembuktian kebenaran melalui sebuah muzizat dialam wilayah realitas atau dialam nyata bukan kehendak manusia akan tetapi kehendak Illahi atau kemuliaan dari para nabi dan rasul. Apalagi hal semacam itu masih dianggap mustahil dapat terjadi Anggapan ini tentunya bisa dbenarkan karena disatu sisi mereka yang berpandangan seperti itu pembuktian kebenaran ajaran Illahi yang telah di beritahukan lewat kitab-kitab suci saja atau mereka tidak mengetahui jalan menuju suatu pembuktian kebenaran hakiki, sehingga belum bisa untuk menunjukannya. Sedangkan bagi orang yang bisa mengatakan suatu pembuktian terhadap hal-hal mustahil di alam nyata sebagai bentuk jawaban yang atas keraguan sebagian umat yang menganggap hanya Allah yang bisa melakukannya, Jika diremui hal nyata seperti ini, maka kita boleh berpendapat bahawa mereka itulah yang telah di pilih oleh Allah untuk melaksanakan tugas Illahi di alam nyata.
Jika sang khlalik telah memberikan mandat kepada manusia biasa untuk melaksanakannya, maka itu artinya sudah semakin para keadaan alam semesta dengan segala isinya yang maujud. Karena itu janganlah heran jika ada sosok manusia biasa dijaman modern ini yang melaksanakan tugas Allah tersebut. Sebaliknya umat manusia harus secepatnya dapat menyesuaikan diri sekaligus melebur diri untuk berinteraksi memahami untuk melaksanakan ajaran yang di bawahnya. Karena di yakini bahwa jika seseorang mencoba membantahnya apalagi tetap melaksanakan larangan yang telah dilarang oleh ajaran agama, maka akan terjadi kehancuran terhadap orang tersebut kerena disertai mereka yang benar-benar mengetahui jalan menuju kebanaran hakiki. golongan tersebut telah melampauwi sekat-sekat tabu dan mstahil atau dengan kata lain mereka mereka sudah memberikan jawaban nyata atas ungkapan-ungkapan yang di sampaikan oleh Illahi melalui kitab-kitab suci serta perkataan dari para nabi, dan rasul. Jika golongan ini ada di muka bumi, maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa merekalah merupakan orang-orang pilihan Illahi yang disiapkan untuk memberisikan dunia dengan segala isinya yang maujud,
Oleh karena itu apabila ada orang yang mampu memberikan jawaban rasional dengan menghadirkan bukti, nyata, maka dialah orang yang di utus untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi umat manusia. didunia ini. Dan kita harus meyakini bahwa hal tersebut pasti akan ada sebagai sosok yang memberikan jawaban kebenaran atas berbagai kejadian di dunia ini. Dalam masa transisi menuju kebenaran pasti ada gejolak yang di hadapi gejolak tersebut berdampak kepada sejauhmana kualitas iman seseorang dengan adanya musibah yang dialami didunia ini. Orang pasti menyatakan secara gamlang bahwa hal itu terjadi karena umat manusia tidak menyadari keberdaan dirinya didunia ini atau sudah tidak menjalankan lagi ajaran-ajaran agama dengan baik dan benar. Disisi lain bagi mereka yang memiliki pemahaman rasional akan mengatakan bahwa musibah atau bencana alam itu terjadi karena adanya disfungsi antara manusia dan materi yang ada (ula manusia) dan juga adanya perubahan global materi alam (seleksi alam)..
Pemahaman rasional atas sessuatu termasuk didalamnya pemahaman metfisik (non fisik) yang mestinya di kontruksikan adalah bahwa sesuatu yang nyata akan pula bersumber dari pedoman yang nyata. Artinya pemahaman syariat yang komprehensip akan melahirkan perbuatan syariat yang benar dan tepat dengan penuh pembuktian.. Sejauh ini pemahaman rasional terhadap ajaran Illahi yang sesungguhnya belum nampak dipermukaan dunia ini sehingga masih perlu di kaji ulang bahkan mungkin harus dilakukan uji kebenaran dari ajaran-ajaran tersebut sehingga umat tidak menjadi ragu dan bimbang terhadap pilhannya masing masing. Banyak sudah contoh yang dapat di lihat baik di Indonesia maupun di negara lainnya. Bahwa penyelewengan atas ajaran Illahi mengakibatkan kesengsaraan dalam semua aspek kehidupan .Hal ini membuktikan bahwa tidak ada kaidah atau ajaran agama yang dapat memberikan pencerahan universal bagi umat manusia. Disatu sisi penganut agama-agama di dunia tidak dapat menghadirkan rasionalitas ajaran agamanya yang berfungsi sebagai reflika Illahi di dunia nyata, sehingga umat manusia tanpa memandang suku agama dan ras untuk tunduk dan mengakui kesalahan yang telah di lakukan.
Refleksi rasionalitas dari penyelewengan atas ajaran Illahi dapat dilihat dari berbagai kejadian alam dan perbuatan manusia terhadap manusia lainnya tanpa memandang hakekat kejadian manusia, misalnya saja peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia, perang di Timur tengah, pemerkosaan, penjarahan, penipuan, korupsi dan lain-lain adalah merupakan hal nyata dari rasionalitas penyelewengan terhadap ajaran Illahi. Paham keagamaan yang dianut di berbagai belahan dunia saat ini tidak mampu memberikan penyadaran yang menyeluruh dan bemanfaat bagi orang lain untuk mengakui bahwa yang dilakukan adalah sebuah kekeliruan dan kesalahan fatal terhadap sebuah kebenaran hakiki. Artinya bahwa kejadian atau peristiwa alam dan bencana maupun penindasan atas orang lain tidakbisa serta-merta dihentikan hanya karena paham dan penyelenggaraan ajaran agama tertentu. Dengan kata lain ajaran agama tertentu tidak dapat menghentikan peristiwa-peristiwa tersebut. Sudah lama umat manusia mengalami cobaa, ujian dan musibah akan tetapi tapi titidak satupuan pedoman ajaran agama yang dapat di jadikan sanadaran untuk bertobat. Pedoman dan ajaran agama yang saat ini di yakini seakan hanya merupakan lambang saja sehingga banyak sekali terjadi penyelewengan. Padahal ajaran agama yang di anut adalah bentuk control tuhan atas perbuatan setiap hambanya. Umat manusia mestinya tahu akan kebijakan Illahi tersebut karena mereka karunia akal dan pikiran untuk dapat menyaring dan menegakkan kebenaran dari kebijakan Illahi tersebut. sehingga tidak berbuat di luar kebijakan-Nya itu. Hal ini lah membuat kita bertanya-tanya tentang rasionalitas sebuah kebenaran termasuk didalamnya pemahaman yang benar terhadap kebenaran hakiki. Pertanyaan kitapun masih panjang dan tertujuh pada kebenaran dari ajaran agama mana yang harus di ungkapkan termasuk siapa yang dapat memberikan petunjuk dari kebenaran tersebut. Atau mungkin pertanyaan kita di arahkan kepada siapa dan bagaimana orang yang berperan nantinya untuk meluruskan ajaran agama di dunia ini..
Jika pertanyaan- pertanyaan tersebut di tanggapi, maka dapat di pastikan bahwa akan ada pembenaran terhadap ajaran Illahi yang paling hakiki dan benar.dan mungkin juiga kebenarann tersebut sekaligus memberikan iformasi tentang pertaubatan universal dari umat manusia terhadap kesalahan yang dilakukan selama ini. Sebab barang siapa yang tidak melakukan istigfar atau bertobat maka akan terlambat dan menyesal sepanjang masa. Jika kebenaran hakiki akan muncul , maka hampir dipastikan dunia akan menyongsong masa akhir. Namun demikian tidak ada seorang pun yang memaksa adanya kebenran dan datangnya figure pembenaran tersebut. kecuali mereka yang di beri penunjuk oleh Allah SWT. Hanya saja perlu di ketahui bahwa proses yang sedang terjadi di alam ini adalah perang antara kebatilan dan kebenaran dan kebenaran pasti mutlak menag karena yang benar akan kekal sedang kebatilan hanya sandiwara yang di hadirkan untuk menguji umat manusia dan segala mahluk di alam semesta yang maujid. Kebenaran yang sesungguhnya akan membawa konsekwensi kepada umat manusia dan mahluk lainnya. Konsekwensi itu adalah tentang pilihan mana yang harus diikuti jika tidak di ikuti akan memberikan dampak yang tidak diduga-duga dari mana datangnya. Oleh karena itu bersiaplah untuk menyambut masa tersebut. Dimasa itu akan terjadi peristiwa-peristiwa mustahil menurut alam piker manusia saat yang semula hanya dikisahkan, tapi benar-benar terjadi dan inilah yang dinamakan pancaran wujud Illahi. Selain itu tidak ada yang mencoba lagi untuk memalsukan ajaran sekaligus tindakan dan kesemena-menangan karena akan berhadapan dengan wujud dirinya sendiri bahkan menyaksikan wujud-wujud tersebut secara nyata atau dengan seluruh panca indra yang dimiliki.
Inilah pemahaman rasionalitas atas penyelewengan ajaran Illahi. Bahwa kebenaran dan pelakunya sebagi aktor bertidak secara nyata di alam ini dalam memberikan pencerahan kebenaran terhadap prasangka-dan penyelewengan ajaran dari orang lain yang sarat dengan dosa dan bentuk kemunafikan lainnya. Kehadiran dari kebenaran hakiki adalah sebagai penunjuk jalan menuju kebenaran yang sebenar-benarnya Oleh karena itu. Pertaubatan universal akan datang sejalan dengan munculnya kebenaran hakiki tersebut dan itu tidak akan lama lagi, serbab oktor kebenaran saat ini telah disiapkan oleh Allah SWT untuk menjalankan tugasnya. Pertanyaanya adalah apakah memang benar ada utusan Illahi setalah adanya nabi terakhir (Nabi Muhammada SAW) ? apakah ini tidak melanggar pernyataan Illahi ataukah teks kitab suci hanya merupakan sebuah jebakan bagi umat manusia untuk melakukan pencarian pemahaman tersendiri. Hal inilah yang akan dikontruksikan oleh penulis dalam memecahkan cakrawala penalaran dengan mengahdirkan cici-ciri utusan yang dimaksud termasuk kemungkinan-kemungkinan tindakan yang yang terjadi setelah kehadirannya didunia ini. Kehadirannya didunia ni adalah sebuah perintah yang secara implisit juga di uraikan dalam berbagai kitab suci termasuk di dalamnya adalah penyatuhan seluruh umat manusia didunia dengan kesiapan kemakmuran dan keadilan kepada umat manusia.
Rabu, 13 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar