Sebelum mengemukakan krtik terhadap tulisan dengan topik’ Memangkas Sulur-Sulur Global Oligarki Suharto” khusnya berkaitan dengan otoritas dan hegemoni ekonomi, politik dan lainnya, maka sangatlah perlu untuk menelaah secara kritis terhadap fenomena sosial yang mengikuti peristiwa tersebut. Selain itu pula pandangan yang di kemukakan setidaknya di landasi dengan konsep sosial yang terdiri dari kerangka pemecahan secara realistis dan secara teoritis. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kedangkalan dalam memahami pemikiran orang lain yang muncul dari sebuah tindakan sosial. seseorang atau sekelompok..
Memahami pemikiran seseorang khususnya terhadap seorang akademisi dari Autearoa tersebut, maka mungkin kita dapat mengapresiasikan bahwa kerangka pemikiran yang di kemukakan terhadap persoalan sosial semacam itu boleh dikata agak idealis atau juga boleh di bilang rasional tergantung dari sisi mana, kita melihatnya yakni apakah dari sisi masyarakat atau dari pihak otoritas yang berkuasa saat itu. Jika kedua hal ini dapat dipisahkan, maka mungkin kita akan menganggap wajar saja hal itu di lakukan.oleh sesorang yang berkuasa akan tetapi jika kita hanya berada pada satu kelompok saja, misalnya rakyat, maka boleh jadi apa yang dilakukan Suharto dan kroni-kroninya sama dengan apa yang dikemukakan oleh akademisi dari Aotearoa tersebut.
Dalam konsep demokrasi, kita mengenal adanya penguasa dan rakyat. yakni orang yang menjalankan kekuasan dan mereka yang mempunyai hak dalam menentukan kekuasan. Dari konsep ini maka kemungkinan kita dapat membenarkan pemikiran yang dikemukakan oleh akademisi tersebut. Namun apabila kita berpijak pada realitas sosial, maka pemikiran yang dikemukakan
oleh akademisi tersebut tidaklah realistis walaupun hal semacam ini rasional. Apabila kita dapat memahami posisi masing-masing, maka apa yang dikatakan oleh sang penulis terhadap Suharto adalah sebuah pandangan idealis rasional bukan realitas rasional. Sebab jika kita menilai tindakan orang lain, maka ada baiknya ada berbagai metode yang digunakan untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai tindakan seseorang. Oleh karena itu pemahaman terhadap arti-arti subyek dari peristiwa tersebut menjadi penting artinya untuk menentukan motif- motif yang dilakukan oleh Soeharto dan kroni-kroninya.dalam praktek kekuasaannya.. Menurut konsep Tindakan sosial dan sttruktur sosial bahwa ada kondisi yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Probabilita-probabilita akan mempunyai pengaruh benar terhadap tindakan- tindakan sosial, baik terhadap sesuatu yang bersifat memaksa maupun sebagai satu alat untuk mempermuda satu jenis tindakan dari pada yang lainnya.
Ketika otoritas dan hegemoni bergandengan tangan, maka siapapun pasti akan menjustifikasi bahwa karena individu atau kelopok tersebut mempunyai otoritas, sehingga mudah menghegemoni aspek-aspek sosial lainnya. Pemahaman ini, seakan-akan dianggap wajar padahal bila di hadapkan pada ketentuan universal, maka hal ini sangat bertentangan sehingga munculnya kelas-kelas sosial yang diikuti dengan gerakan sosial yang kontra terhadap iindividu atau kelompok yang mempunyai otoritas dan hegemoni tersebut. Hal ini yang terjadi pada Soeharto dan kroni-kroninya.
Melakukan pemangkasan terhadap jaringan hegemoni Soeharto adalah sebuah tindakan sosial yang didasarkan pada aspek realitas dan regulasi kemanusian.
Namun demikian tidak hanya melakukan memangkasan, tapi mestinya memutusan atau penyabutan akar-akar otoritas dan hegemoni yang di lakukan selama 32 tahun, karena otoritas dan hegemoni yang terlalu lama telah terjadi pembeliaan konspirasi baru yang akan berhadapan dengan kekuatan abstrak di masyarakat. Kekuaabstrak yang dimaksudkan adalah sebagian komunitas masyarakat Indonesia yang telah di produksi oleh rezim sebelumnya bercampur dengan komunitas yang memegang teguh kepentingan universal, termasuk didalamnya kelompok-kelompok yang memperjuangkan kepentingan individu. Oleh karena itu menurut hemat penulis ada beberapa hal yang masih perlu dikritisi terhadap tulisan akademisi dari Aotearoa yakni. Pertama Realitas yang dikemukakan masih perlu di kaji ulang dengan melihat pada rasionalitas yang muncul dari sebuah otoritas dan hegemoni Soeharto. Artinya harus juga terjadi penajaman terhadap penyebab dan aspek-aspek penting apa yang memberikan peluang muncul hegemoni sosial, ekonomi, politik dan lainya yang dilakukan Soeharto dan kroni-kroninya.. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan pemahaman yang obyektif dan akurat mengenai pemangkasan sulur-sulur global oligarki Soeharto. Kedua bahwa tulisan tersebut merupakan refleksi terhadap ketidak puasan dan ketidak wajaran praktek kekuasan yang dilakukan Soeharto dan kroni- kroninya, hanya saja objektifitas dari tulisan tersebut belum dapat dipahami secara benar karena sebagai akademisi tentunya ada efek ilmiah yang diperoleh setelah pernyataan tersebut., kenyataannya bahwa apa yang dikemukakan terutama terhadap pemangkasan jaringan bisnis global sampai saat ini belum di rasakan hasilnya oleh public di Indonesia. Artinya bahwa apa yang dikemukakan tersebut masih bersifat aksioma yang belum tentu benar atau juga benar.
Ketiga Penulis berpendapat bahwa akademisi dari Aotearoa tersebut, hanya merupakan reflika dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak puas dengan strategi otoritas dan hegemoni yang di tarapkan Soeharto atau mungkin juga dia merupakan salah satu dari penggagas pro demokrasi di Indonesia yang juga syarat dengan kepentingan-kepentingan
Memahami pemikiran seseorang khususnya terhadap seorang akademisi dari Autearoa tersebut, maka mungkin kita dapat mengapresiasikan bahwa kerangka pemikiran yang di kemukakan terhadap persoalan sosial semacam itu boleh dikata agak idealis atau juga boleh di bilang rasional tergantung dari sisi mana, kita melihatnya yakni apakah dari sisi masyarakat atau dari pihak otoritas yang berkuasa saat itu. Jika kedua hal ini dapat dipisahkan, maka mungkin kita akan menganggap wajar saja hal itu di lakukan.oleh sesorang yang berkuasa akan tetapi jika kita hanya berada pada satu kelompok saja, misalnya rakyat, maka boleh jadi apa yang dilakukan Suharto dan kroni-kroninya sama dengan apa yang dikemukakan oleh akademisi dari Aotearoa tersebut.
Dalam konsep demokrasi, kita mengenal adanya penguasa dan rakyat. yakni orang yang menjalankan kekuasan dan mereka yang mempunyai hak dalam menentukan kekuasan. Dari konsep ini maka kemungkinan kita dapat membenarkan pemikiran yang dikemukakan oleh akademisi tersebut. Namun apabila kita berpijak pada realitas sosial, maka pemikiran yang dikemukakan
oleh akademisi tersebut tidaklah realistis walaupun hal semacam ini rasional. Apabila kita dapat memahami posisi masing-masing, maka apa yang dikatakan oleh sang penulis terhadap Suharto adalah sebuah pandangan idealis rasional bukan realitas rasional. Sebab jika kita menilai tindakan orang lain, maka ada baiknya ada berbagai metode yang digunakan untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai tindakan seseorang. Oleh karena itu pemahaman terhadap arti-arti subyek dari peristiwa tersebut menjadi penting artinya untuk menentukan motif- motif yang dilakukan oleh Soeharto dan kroni-kroninya.dalam praktek kekuasaannya.. Menurut konsep Tindakan sosial dan sttruktur sosial bahwa ada kondisi yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Probabilita-probabilita akan mempunyai pengaruh benar terhadap tindakan- tindakan sosial, baik terhadap sesuatu yang bersifat memaksa maupun sebagai satu alat untuk mempermuda satu jenis tindakan dari pada yang lainnya.
Ketika otoritas dan hegemoni bergandengan tangan, maka siapapun pasti akan menjustifikasi bahwa karena individu atau kelopok tersebut mempunyai otoritas, sehingga mudah menghegemoni aspek-aspek sosial lainnya. Pemahaman ini, seakan-akan dianggap wajar padahal bila di hadapkan pada ketentuan universal, maka hal ini sangat bertentangan sehingga munculnya kelas-kelas sosial yang diikuti dengan gerakan sosial yang kontra terhadap iindividu atau kelompok yang mempunyai otoritas dan hegemoni tersebut. Hal ini yang terjadi pada Soeharto dan kroni-kroninya.
Melakukan pemangkasan terhadap jaringan hegemoni Soeharto adalah sebuah tindakan sosial yang didasarkan pada aspek realitas dan regulasi kemanusian.
Namun demikian tidak hanya melakukan memangkasan, tapi mestinya memutusan atau penyabutan akar-akar otoritas dan hegemoni yang di lakukan selama 32 tahun, karena otoritas dan hegemoni yang terlalu lama telah terjadi pembeliaan konspirasi baru yang akan berhadapan dengan kekuatan abstrak di masyarakat. Kekuaabstrak yang dimaksudkan adalah sebagian komunitas masyarakat Indonesia yang telah di produksi oleh rezim sebelumnya bercampur dengan komunitas yang memegang teguh kepentingan universal, termasuk didalamnya kelompok-kelompok yang memperjuangkan kepentingan individu. Oleh karena itu menurut hemat penulis ada beberapa hal yang masih perlu dikritisi terhadap tulisan akademisi dari Aotearoa yakni. Pertama Realitas yang dikemukakan masih perlu di kaji ulang dengan melihat pada rasionalitas yang muncul dari sebuah otoritas dan hegemoni Soeharto. Artinya harus juga terjadi penajaman terhadap penyebab dan aspek-aspek penting apa yang memberikan peluang muncul hegemoni sosial, ekonomi, politik dan lainya yang dilakukan Soeharto dan kroni-kroninya.. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan pemahaman yang obyektif dan akurat mengenai pemangkasan sulur-sulur global oligarki Soeharto. Kedua bahwa tulisan tersebut merupakan refleksi terhadap ketidak puasan dan ketidak wajaran praktek kekuasan yang dilakukan Soeharto dan kroni- kroninya, hanya saja objektifitas dari tulisan tersebut belum dapat dipahami secara benar karena sebagai akademisi tentunya ada efek ilmiah yang diperoleh setelah pernyataan tersebut., kenyataannya bahwa apa yang dikemukakan terutama terhadap pemangkasan jaringan bisnis global sampai saat ini belum di rasakan hasilnya oleh public di Indonesia. Artinya bahwa apa yang dikemukakan tersebut masih bersifat aksioma yang belum tentu benar atau juga benar.
Ketiga Penulis berpendapat bahwa akademisi dari Aotearoa tersebut, hanya merupakan reflika dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak puas dengan strategi otoritas dan hegemoni yang di tarapkan Soeharto atau mungkin juga dia merupakan salah satu dari penggagas pro demokrasi di Indonesia yang juga syarat dengan kepentingan-kepentingan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar