Oleh : Saleh Wailissa
Hari Jum’at 27 Nopember 2009, umat Islam di seluruh duinia merayakan hari raya Idul Adha atau juga disebut Idul Kurban. Di masyarakat kita terutama di daerah pedesaan sering menyebut Hari Raya Idul Adha dengan Hari Raya Haji.
Idul Adha merupakan sebuah hari raya bagi umat Islam yang dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Pada hari itu juga diperingati peristiwa sejarah pengorbanan umat manusia, yakni peristiwa dimana Allah SWT menguji keikhlasan nabi Ibrahim a.s untuk mengorbankan putra tercintanya nabi Ismail a.s. yang kemudian oleh Allah SWT sendiri di gantikan dengan menyembelih seekor Gibas (domba). Peristiwa tersebut memberikan pelajaran yang berharga tentang pentingnya pengorbanan dengan penuh keihlasan dari seorang hamba Allah yang di sebut beriman. Selain sebagai pelajaran yang perlu di pahami dan dimanivestasikan dalam kehidupan setiap muslim, juga mengandung makna lain yang bisa di petik, yakni adanya wujud komitmen seorang hamba yang beriman untuk mematuhi dan melaksanakan perintah Allah SWT. Perstiwa ini sekaligus merupakan refleksi atas berbagai sifat dan sikap berkorban dalam memaknai proses kehidupan.. Konsekwensi inilah yang mungkin mendasari tekad nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail a.s. dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Peristiwa nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail inilah yang merupakan suatu bentuk pengujian iman seorang muslim yang sa ngat nyata.
Allah SWT berfirman yang artinya, “…Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 100-109)
“Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Al-Hajj: 28)….
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
ِ Terjemahan beberapa ayat dari Al-Qur’an sebagaimana disebut diatas, disamping ayat lainnya adalah petunjuk bagi kita umat Islam dalam menyikapi atau memahami adanya kegiatan penyembelihan hewan kurban pada setiap perayaan Idul Adha. Namun pemahaman yang lebih komprehensip tentang keihklasan berkurban sebagaimana yang telah di contohkan oleh nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail a.s. tidaklah hanya sebatas keikhlasan menyediakan hewan untuk di sembelih saja tapi sesungguhnya lebih dari itu, yakni keihklasan merelahkan sebahagian harta benda bahkan jiwa dan raga untuk kepentingan agama dan kemanusian, Pemahaman semacam ini mengandung makna bahwa pengorbanan sesorang hamba karena Allah SWT adalah sangat utama dari pada pengorbanan karena kepentingan dan keinginan duniawi, termasuk didalamnya pengorbanan untuk mendapatkan pengakuan orang lain atau mengorbankan segala sesuatunya untuk memperoleh sebuah kebahagian duniawi semata.
Banyak sudah contoh pengorbanan yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan kemanusian (pengorbanan sia-sia dimata Allah) yang bisa dilihat disekitar kita. Ambil misal tentang adanya berbagai informasi baik dari media masa maupun menyaksikan secara langsung mengenai potret perilaku menyelewengan ajaran agama dan kemanusiaan dari sebagian anggota masyarakat kita melalui kegiatan suap-menyuap, korupsi dan semacamnya hanya untuk memperoleh sebuah keinginan bahkan ada yang lebih dari itu yakni mengorbankan diri atas nama cinta dan kasih sayang padahal belum tentu keinginan atau kepentingan yang dikehendaki tersebut terpenuhi bahkan mungkin juga ada yang mengakibatkan kegoncangan mental dan pisik.
Pengorbanan yang sia-sia tersebut mestinya tidak perlu terjadi jika masing-masing individu memahami tentang hakikat keberadaan dirinya dan kehidupannya di dunia ini serta apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai khalifa dimuka bumi yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Setiap individu juga haruslah terus menerus melakukan perbaikan dan perubahan sikap, sifat maupun mental spiritual agar sesuai dengan kehendak Illahi karena pada diri manusia pada hakikatnya terdapat kemampuan untuk memilah mana yang dihendaki dan mana yang dihindari. Oleh karena itu tetaplah berbesar hati dan bersyukur jika diantara kita ada yang berani menolak bahkan mengharamkan pengorbanan untuk kepentingan dan keinginan duniawi yang tidak sejalan dengan ajaran Illahi. Kita juga harus berterima kasih kepada mereka yang senantiasa berusaha membentingi dirinya dengan godaan kepentingan dan keinginan tersebut sambil berusaha untuk menyebar-luaskan nilai kebenaran dimaksud kepada siapa saja tanpa memandang status sosial, kelompok maupun golongan tertentu
Keteladanan berkurban yang telah di tunjukan oleh nabi Ibrahim dan nabi Ismail a.s adalah contoh nyata pengorbanan sesorang hamba dalam memenuhi kewajiban untuk menegakkan perintah Allah SWT. Peristiwa tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa berkorban untuk kepentingan ibadah merupakan keniscayaan yang harus selalu didorang dan di kembangkan. Disamping itu peristiwa ini, perlu dimakanai sebagai pemenuhan atas tanggung jawab social (kesalehan social) yang menjadi ciri bagi individu setiap muslim dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya. Kesalehan sosial dimaksudkan bahwa dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah untuk mengasihi sesama yang di wujudkan melalui pembagian daging hewan kurban kepada mereka yang berhak menerima. Perintah ini sekaligus membuktikan betapa idealnya ajaran Islam yang turut memperhatikan kaum fakir-miskin.
Perintah untuk berkurban juga melati umat Islam untuk meningkatkan rasa kemanusiaan, memperteguh kepekaan terhadap berbagai problem social dan mengembangkan sikap saling menyayangi terhadap sesama mahluk Allah. Sehingga dalam mengaktualisasikan wujud kegiatan ibadah, tidak lagi berjalan sendiri seperti yang kita saksikan selama ini, yakni menitik beratkan pelaksanaan ibadah hanya pada ibadah fardu saja, sedangkan ibadah social terkadang diabaikan. Begitu juga sebaliknya terkadang kita hanya melaksanakan ibadah social saja tapi tidak melaksanakan ibadah fardu, seperti sholat, puasa, haji dan lain sebagainya.. Pemahaman semacam ini perlu dikemukakan agar individu umat Islam dapat memahami setiap tindakannya dalam memaknai keberadaan dirinya sebagai mahluk yang sempurna.dimuka bumi. Pemahaman seperti ini juga dimaksudkan agar individu bisa melakukan pembacaaan terhadap setiap tindakann ibadahnya. Bahwa apakah yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan sangat dikehendaki atau bahkan tindakan tersebut dimurkai oleh Allah SWT, karena dibalik tindakan ibadah tersebut, ada berbagai kepentingan dan keinginan tertentu yang tidak sejalan dengan kehendak Illahi. Dalam kondisi demikian, kihklasan untuk melakukan suatu tindakan ibadah sebagainana ditunjukan oleh nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail a.s. selayaknya di miliki oleh setiap individu sehingga selalu merasa bersyukur, bahkan menghadirkan kegembiraan dan kesejukan karena telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Oleh karena itu kegiatan ibadah fardu maupun ibadah social (muamalah), haruslah bersama-sama menjadi prioritas ibadah umat Islam secara keseluruhan. Sehingga pada suatu saat umat Islam tidak hanya berlomba untuk meningkatkan kualitas ibadah fardu, tapi juga berlombah untuk meningkatkan kualitas ibadah social (muamalah) demi mewujudkan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.
Penulis adalah Pemerhati masalah sosial keagamaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar